Teman Ahok mengecam aksi sweeping yang dilakukan massa Front Pembela Islam (FPI) di Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk mencari Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Sikap Teman Ahok ini disampaikan melalui akun twitter @temanAhok. Dalam kicauannya, @temanAhok menyatakan simpati pada Bupati @DediMulyadi71 dan menegaskan bahwa sikap arogan FPI tersebut sama sekali tidak mewakili sikap warga Jakarta.


Bukan hanya di twitter, Teman Ahok juga menyatakan simpati melalui status di fanpage Facebook, fb.com/temanahok. Belakangan, Dedi Mulyadi mengomentari status tersebut dengan pernyataan simpatik. Dedi menyatakan memaklumi peristiwa tersebut. Kecintaannya pada Ahok dan warga Jakarta yang membuat Dedi memutuskan untuk tidak naik panggung demi menjaga suasana yang kondusif. Dedi juga berharap agar Jakarta dapat menjadi rumah yang terbuka bagi para pecinta toleransi dan kedamaian. “salam hormat untuk Pak Ahok dan Warga Jakarta semoga Jakarta tetap menjadi Rumah terbuka bagi para pecinta toleransi dan kedamaian.” tulis Dedi melalui akun Facebooknya.

Belakangan juga muncul petisi online yang menuntut ketegasan dari pihak kepolisian dalam menindak aksi premanisme yang membawa sikap intoleransi tersebut. Petisi dengan judul "Copot Kapolsek Jakarta Pusat yang Sudah Dukung Aksi Sweeping FPI!" tersebut dibuat 18 jam lalu dan sudah memperoleh sekitar 7.500 pendukung. Pengguna akun Damar Juniarto, dalam deskripsi petisinya di change.org menekankan protes pada penegak hukum yang terkesan membiarkan aksi sweeping FPI Senin lalu.

Sebelumnya seperti diketahui, Senin malam (28/12), ratusan massa FPI melakukan aksi sweeping di TIM untuk mencari Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Aksi ini, menurut massa aksi, merupakan bentuk penolakan FPI atas kedatangan Dedi ke Jakarta untuk menerima anugerah Federasi Teater Indonesia (FTI) 2015. “Kami hanya memeriksa kendaraan karena tak ingin Bupati Purwakarta ada di Jakarta” kata panglima besar Laskar Pembela Islam (LPI) FPI, Maman Suryadi, seperti dikutip dari cnn.com.

Anehnya, aksi sepihak FPI ini hanya disaksikan oleh petugas keamanan setempat tanpa tindakan apa-apa. Sebaliknya, saat dikonfirmasi oleh wartawan polisi malah berdalih, "Mereka hanya memeriksa. Nggak boleh sweeping" seperti dikutip dari detik.com.

Dedi Mulyadi, yang pada malam itu sudah berada di TIM dan lolos dari aksi sweeping FPI, memutuskan untuk meninggalkan TIM. “Sebagai Bupati, saya menghormati keamanan Jakarta. Saya memilih meninggalkan TIM agar kondusif, sebagai bentuk penghormatan saya pada pak Ahok, Gubernur DKI Jakarta” ujar Dedi.