Seorang warga Tanah Abang, Wulan Russel, mengadukan tindakan intimidasi terselubung terhadap keluarganya karena mendukung Ahok pada Pilkada putaran pertama. Aduan pertamanya masuk ke email Teman Ahok pada 5 Maret 2017. Wulan menjelaskan bagaimana mushola di wilayahnya bukan hanya memasang spanduk menolak mengurus jenazah pendukung Ahok, namun juga mengucilkan anggota keluarganya yang sehari-hari sholat di mushola itu.

Update terbaru dari Wulan, beberapa tetangga juga diintimidasi oleh warga sekitar dengan hinaan yang bersifat rasis. Adapun spanduk besar yang dipasang depan musholla tersebut juga belum diturunkan. Malahan, pengurus masjid mengancam akan memasang spanduk yang lebih besar jika spanduk yang lama diturunkan.  "Laporin aja, kita ga takut, bakal gue pasang spanduk yang lebih gede lagi!," papar Wulan melalui kiriman surat elektroniknya kepada kami, menirukan ucapan oknum warga yang memasang spanduk.

Ancaman yang terjadi bukan saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga yang memiliki hak untuk memilih siapapun dalam Pilkada. Menurut Wulan, ibunya dan beberapa tetangga lain yang memilih paslon Ahok-Djarot malah dibuat tidak nyaman beribadah di mushola tersebut. Selain dikucilkan, ceramah juga seringkali mengkampanyekan untuk tidak memilih Ahok-Djarot, melainkan pemimpin muslim.

“Saya amat sangat minta tolong Teman Ahok membantu, mengambil tindakan. Kasian ibu saya dan tetangga2 dirumah saya. Dimusuhin sana sini. Bahkan tiap ada pengajian, pidatonya "Jangan pilih no 2 ibu ibu," masa begitu,” ujar Wulan.

Apa yang dialami Wulan dan keluarganya bukan yang pertama kali terjadi pasca Pilkada DKI putaran pertama Maret lalu. Penolakan pengurusan jenazah pendukung Ahok bahkan bukan hanya sekedar ancaman. Beberapa informasi mengenai pengusiran dan pelarangan membuka usaha juga terjadi bahkan pada relawan Teman Ahok sendiri.

Juru bicara Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas menyayangkan maraknya disintegerasi yang terjadi di Jakarta. Menurut Amalia, apabila dibiarkan maka perpacahan ini dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah bagi bangsa. “Jakarta ini miniaturnya Indonesia yang plural. Tapi sekarang kok jadi terkesan enggan hidup berdampingan hanya karena perbedaan preferensi politik,” ujar Amalia.

Amalia juga mengatakan, dalam waktu dekat Teman Ahok akan mengerahkan kembali sumber dayanya untuk mengkampanyekan persatuan dan integrasi bangsa dalam Bhinneka Tunggal Ika. “Ini jelas bukan lagi tentang Ahok. Ini tentang perjuangan jangka panjang sebagai wake up call buat kita semua bahwa perbedaan bukan alasan buat kita mau dipecah belah,” tutupnya.

Berikut ini email asli dari Wulan

Selamat Sore Bapak Basuki Tjahaja Purnama dan teman-teman,

Nama saya Wulantri Oktaviani Russell, saya warga DKI Jakarta dari Tanah Abang IV Jakarta Pusat.
Sebelumnya saya sudah mengetahui banyak kejadian di Jakarta tentang spanduk-spanduk di mushola atau masjid yang bertuliskan intinya "tidak akan menyolati jenazah pendukung paslon no.2 yaitu pak Ahok dan pak Djarot,". Mengetahui itu rasanya saya sebagai warga DKI Jakarta ikut sedih.

Lalu, tidak lama kemudian, mushola dekat rumah saya juga ternyata ada spanduk yang sama. dan saya marah sekali lihatnya. Satu satunya keluarga yang mendukung Paslon No.2 di Jalan Tanah Abang IV ini hanya keluarga saya, kepala keluarga ayah saya bernama MULYADI. Lalu, siang ini ibu saya cerita kepada bahwa beliau tidak bisa solat di mushola itu dan semua tetangga ikut mencibir dan mencemooh ibu saya karena ibu saya mendukung Pak Ahok dan Pak Djarot.

Lalu, pihak mushola ini memberikan sembako tapi hanya untuk pasangan NO.3, ini murni POLITIK dan keluarga saya tidak suka dengan perlakuan ini, karena ibadah dicampur adukan dengan politik.

Mohon, Bapak dan teman-teman membantu saya dan keluarga saya agar ini segera ditindaklanjuti, karena ini tidak adil untuk keluarga saya tidak bisa ibadah.

Terimakasih sebesar-besarnya untuk Bapak Basuki Tjahaja Purnama dan teman-teman.