Medium rptra kembangan gajah tunggal 20150616 092345


"Siapa tahu saja dengan dibangunnya RPTRA ini, nantinya ada anak-anak yang jadi presiden atau orang-orang profesional di masa depan. Maka dari itu, RPTRA di Jakarta harus diperbanyak" Basuki Tjahaja Purnama

Sebagai sebuah kota, Jakarta mengalami perkembangan yang cukup pesat beberapa dekade belakangan.  Bertumbuhnya berbagai gedung-gedung perkantoran kemudian pembangunan mall dan pusat perbelanjaan yang seakan tiada hentinya memang mempunyai dampak yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi Jakarta namun pertumbuhan semacam ini juga menyisakan banyak pertanyaan dikepala tentang seperti apa sebetulnya citra kota Jakarta selama ini. 

Citra kota Jakarta yang terlihat selama ini  memaksa kita untuk berpikir kalau kita memang by design harus menghabiskan leisure time kita di Jakarta dengan hanya pergi ke mall dan pusat perbelanjaan karena toh mau kemana lagi? Warga Jakarta tidak memiliki banyak ruang publik ataupun ruang terbuka hijau yang layak untuk warganya bersantai.  

 Sepertinya kebutuhan akan Ruang Tengah Hijau (RTH) di kota ini hanya terasa penting untuk warga tapi tidak dilihat sebagai  sebuah proyek yang komersil yang menguntungkan bagi si pembuat kebijakan. Tak heran, banyak RTH kini sudah beralih fungsi menjadi gedung-gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan demi alasan komersil dan lain-lain.

Percayalah, bahwasanya isu tentang semakin minimnya ruang terbuka di tengah kota akibat  beralih fungsi bukan isapan jempol semata. Hal ini terjadi di hampir semua kota besar di Indonesia. Jika mengacu pada UU 26/2007 tentang penataan ruang, maka proporsi RTH seharusnya 30% yang merupakan kombinasi RTH publik dan privat, baik RTH aktif atau pasif. Sebagai gambaran pada tahun 2011 proporsi luas RTH Jakarta baru sekitar 9,8 persen (kompas.com 25 April 2011), Medan sekitar 8 persen (hariansumutpos.com 5 Oktober 2010), Bandung sekitar 11 persen (Pikiran Rakyat Online 23 Februari 2011), Makassar sekitar 15 persen (mediaindonesia.com 21 Februari 2011), Solo sekitar 18 persen (republika.co.id 12 Mei 2011), dan Malang sekitar 17 persen (mediaindonesia.com 27 Maret 2011).

RTH adalah hak bagi setiap warga kota khususnya untuk Anak-anak yang tinggal diperkotaan.  RTH merupakan ruang bermain bagi anak-anak di kota, tempat dimana anak-anak tumbuh dan mengembangkan intelegensinya. Mengesampingkan kebutuhan RTH didalam sebuah kota sama saja dengan membunuh kreatifitas Anak-anak.

Sampai akhirnya tiba  era Ahok,  dengan konsep RPTRA-nya.  Sebuah konsep yang layak kita acungi jempol karena dengan konsep taman RPTRA, RTH tidak lagi hanya sekedar sebuah tempat yang wajib ada untuk memenuhi proporsi dalam UU namun juga memiliki fungsi yang jelas selayaknya sebuah taman.    Belum genap setahun Ahok menjabat sebagai Gubernur, kini sudah ada 6  taman RPTRA dari 56 taman  yang direncanakan untuk dibangun hingga 2016 yang telah berdiri di Jakarta.   Paling terakhir taman RPTRA Cililitan yang memiliki luas hingga 3.600 meter yang memiliki berbagai fasilitas dari mulai posyandu hingga perpustakaan.

RPTRA Cililitan


Pembangunan RPTRA atau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak merupakan sebuah awal yang baik untuk merubah citra kota Jakarta yang terkenal tidak ramah terhadap Anak menjadi sebuah kota yang layak Anak.  Sebuah perubahan yang membutuhkan komitmen yang kuat, tidak hanya dari Ahok sendiri tapi juga warga Jakarta secara keseluruhan untuk menjaga perubahan ini tetap berada pada jalur yang benar.  Sehingga perubahan nya nanti bisa dinikmati oleh anak hingga cucu kita di masa mendatang.