Medium  5 tokoh 02

Kerap dituding ‘kafir’ sehingga tidak layak memimpin Jakarta, Ahok justru sering melontarkan pernyataan ‘religius’ yang memancing orang untuk berpikir jernih. Ahok memberikan pelajaran pada kita semua bahwa pemimpin bukan cuma buat kebaikan satu golongan tertentu, melainkan untuk kebaikan bersama.  Ini menjadikan kepemimpinan Ahok sebagai minoritas di Jakarta justru terasa semakin berwarna dengan adanya toleransi yang tinggi.

Berikut beberapa pernyataan ‘religius’ Ahok yang tak jarang mengundang kontroversi.

1.    “Kalau kamu mampu hadapi masalah, Tuhan sayang sama kamu”

Pernyataan ini terlontar dari Ahok ketika dirinya dikepung banyak masalah. Mulai dari masalah sampah, masalah BPK, dan Rumah Sakit Sumber Waras. Disii terlihat, bahwa bagi Ahok pekerjaan dan masalah adalah merupakan hal yang biasa. Justru masalah adalah ujian dalam pekerjaan.

Filosofi tersebut rasanya yang menguatkan Ahok selama hampir satu tahun menjabat sebagai Gubernur DKI. Meski belum genap satu tahun menjaga Jakarta, Ahok sudah sering mendapat banyak cobaan. Dijegal oleh parlemen, dibuatkan Gubernur tandingan, difitnah, bertengkar dengan begal APBD, hingga kisruh sampah yang merugikan anggaran DKI. Namun ‘nafas’ Ahok seolah tak ada habisnya. Bahkan seolah tak kapok, ayah tiga anak ini bersedia diusung maju lagi sebagai Cagub independen yang dicalonkan langsung oleh rakyat.

2.    "Masa mau jadi kepala daerah atau presiden harus pura-pura dapat hidayah. Paman Nabi Muhammad (SAW) saja sampai nangis enggak dapat hidayah,"

Ahok adalah orang yang belajar agama Islam, karena berasal dari Belitung Timur yang sangat kuat islamnya. Pernyataan ini diucapkan Ahok setelah ditemui salah satu penantangnya, Adhyaksa Dault, yang mengandaikan jika Ahok itu Islam, ia bisa jadi presiden.  Namun bagi Ahok, berdagang agama demi kepentingan politik adalah bentuk kemunafikan.

Ahok justru mengisyaratkan bahwa ia tidak perlu berpura-pura dapat hidayah untuk jadi kepala daerah ataupun presiden. Pernyataan Ahok ini menuai banyak kritik sekaligus pujian ditengah masyarakat yang masih berpikir tradisonal dalam menempatkan kepentingan golongan terhadap kepentingan publik. Karena bagi Ahok, kekuasaan adalah amanah. Kekuasaan bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan, meskipun bukan dijalankan tanpa usaha.

3.    "Siddharta  (Budha) mau melepaskan seluruh haknya sebagai seorang pangeran untuk mencari kebenaran itu bukan merupakan sebuah kepedihan, melainkan suka cita,"

Ahok meneladani sikap Siddharta Gautama (Budha) yang rela melepas keistimewaannya sebagai pangeran demi memperoleh makna kebenaran. Menurut Ahok, sikap Buddha yang mau meninggalkan kepentingan diri sendiri demi kepentingan banyak orang sudah selayaknya ditiru. Ahok juga memberi contoh implementasi ajaran Buddha dari hal yang paling sederhana, misalnya kemauan membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan. Jika setiap orang mau dan bisa berkorban untuk membuang sampah pada tempat yang benar, Ahok yakin masalah kebersihan di kota Jakarta akan lebih mudah terselesaikan.

4.    “Apakah kalau tidak di Monas, Tuhan enggak dengar?”

Pernyataan kontroversial ini dilontarkan Ahok menanggapi petisi yang mendesak agar ia meloloskan izin penyelenggaraan Tabligh Akbar Majlis Rasulullah di kawasan Monas pada bulan September. Ahok dianggap diskriminatif karena tidak meloloskan izin Monas untuk Tabligh Akbar, meskipun Ahok sudah menyediakan tempat lain sebagai alternatif lokasi. Isu SARA-pun cepat berembus menyerang Ahok yang pada bulan April sempat memberi izin penyelenggaraan Paskah di Monas.

Padahal, Majelis Rasulullah sendiri sudah diberikan izin Tabligh Akbar pada bulan Mei (sesudah Paskah). Hanya saja, pasca bentrok PKL-Satpol PP pada bulan Juni, kawasan Monas sudah dijadikan kawasan steril PKL. Ahok juga berkomitmen kawasan Monas untuk tidak dipakai untuk kegiatan agama apapun, karena untuk fungsi tersebut sudah disediakan tempat ibadah. Di kemudian hari, Tabligh Akbar akhirnya dilakukan di istiqlal dan berjalan lancar, sedangkan di Monas yang berada di luar ruangan, turun hujan.

5.    “Tulis di Batu Nisan Saya, Mati Adalah Keuntungan”

Ahok benar-benar sudah siap mati! Ya, siap mati demi membela kepentingan Negara. Bahkan, Ahok sudah menyiapkan kalimat pamungkas untuk ditulis di batu nisannya : “Mati adalah Keuntungan”.  Mengutip Al-Kitab, Ahok menyampaikan kalimat ini kepada istrinya saat menghadapi kisruh APBD yang sarat kepentingan.

Bagi Ahok,  mati dengan baik, apalagi mati sebagai martir merupakan keuntungan. Tidak semua orang bisa jadi martir, meski sudah berdoa pada Tuhan, belum tentu seseorang mendapat keberuntungan untuk mati sebagai martir.