Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah salah satu fenomena politik, tidak hanya di Jakarta tapi juga di seluruh Indonesia. Hanya dua tahun menjabat Gubernur menggantikan Gubernur Jokowi yang menjadi Presiden RI, kebijakan-kebijakan Ahok berhasil menciptakan perubahan yang signifikan untuk Jakarta. Namun disisi lain, Ahok juga merupakan sosok pemimpin yang tidak lazim, karena memiliki gaya kepemimpinan yang keras dan berasal dari minoritas.

Memulai karir politik dari bawah (DPRD Tingkat 2) sampai ke tingkat pusat, pengalaman dan rekam jejak Ahok membuatnya sukses memimpin Ibukota. Ini terbukti dari berbagai survei yang menunjukkan cukup tingginya tingkat kepuasan warga terhadap kinerja Ahok. Mulai dari reformasi birokrasi, pelayanan publik, transparansi anggaran, penanganan sampah dan sungai, transportasi dan penataan kota, Ahok melakukan berbagai trobosan yang mampu menciptakan standar baru untuk seorang kepala daerah lain di Indonesia.

Namun seiring prestasinya, Ahok juga mendapatkan banyak serangan politik sepanjang perjalanan pemerintahannya. Sebagai Gubernur tanpa keanggotaan Parpol, Ahok harus menghadapi berbagai serangan mulai dari kisruh anggaran siluman, sampai dengan Hak Angket yang mengancam melengserkannya. Berbagai kasus hukum juga dituduhkan kepada Ahok, namun sampai saat ini tidak ada yang pernah terbukti di meja hukum.
Saat ini, Ahok dicalonkan untuk kembali menjadi calon Gubernur periode 2017-2022. Setelah sebelumnya berhasil mengumpulkan lebih dari satu juta KTP dukungan, Ahok diusung oleh empat partai politik membuktikan bahwa kinerja Ahok tidak bisa ditepikan hanya karena latar belakang dan kepentingan politik belaka. Masyarakat tetap membutuhkan pemimpin yang berani, jujur, berpengalaman, dan teruji.

KELUARGA DAN MASA KECIL

Masa kecil Basuki lebih banyak dihabiskan di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur. Nama panggilan "Ahok" berasal dari ayahnya. Mendiang Indra Tjahja Purnama ingin Basuki menjadi seseorang yang sukses dan memberikan panggilan khusus baginya, yakni "Banhok". Kata "Ban" sendiri berarti puluhan ribu, sementara "Hok" memiliki arti belajar. Bila digabungkan, keduanya bermakna "belajar di segala bidang.” Lama kelamaan, panggilan Banhok berubah menjadi Ahok.

Ahok melanjutkan pendidikan SMA hingga perguruan tinggi di Jakarta, jauh dari keluarga dan orang tua. Selama menempuh pendidikan di Jakarta, Ahok diurus oleh seorang wanita Bugis beragama Islam yang bernama Misribu Andi Baso Amier binti Acca. Sebelum mendiang Ayah Ahok meninggal dunia, beliau sempat menitipkan Ahok pada keluarga ibu Misribu yang juga merupakan keturunan raja Bone selama menuntut ilmu di Jakarta. Kelak, ibu Misribu yang merupakan ibu angkat Ahok ini menjadi salah satu orang pertama yang percaya bahwa Ahok bisa jadi pejabat dan memperbaiki hajat hidup banyak orang melalui jabatannya.

Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, Ahok bertemu dengan istrinya, Veronica Tan pertama kali dalam aktivitas ibadah. Tanpa sengaja, Ahok menginjak kaki Veronica. Menurut Ahok, rasa cintanya terhadap sang istri pertama kali justru dari kaki naik ke hati. Sejak itu, Ahok mengaku sering memperhatikan Veronica dalam aktivitas gereja. Ia terpukau dengan nyanyian dan permainan piano dari perempuan yang telah memberinya tiga orang anak tersebut. Ahok menikahi Veronica pada tahun 1997, setelah tiga tahun masa pacaran. Hingga saat ini, meski mengaku bukan tipe suami yang romantic, namun rumah tangga Ahok dan Veronica Tan tidak pernah dirundung berita miring. Keduanya tampak saling melengkapi dan serasi dalam tiap kesempatan.

Keluarga

  • Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) lahir di Manggar 29 Juni 1966
  • Anak dari Indra Tjahaja Purnama (Alm), Buniarti Ningsih
  • Menikah dengan Veronica Tan dan dikaruniai 3 orang anak: Nicholas, Nathania, Daud Albeenner

Pendidikan

  • SD Negeri III Gantung, Belitung Timur (1977)
  • SMP Negeri I Gantung, Belitung Timur (1981)
  • SMAK III PSKD, Jakarta (1984)
  • Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Trisakti (1989)
  • Magister Manajemen Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya, Jakarta (1994)

Karir Profesional

  • Direktur Eksekutif Center for Democracy and Transparency (CDT 3.1)
  • Direktur PT Nurindra Ekapersada (1992-2005)
  • Staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan PT Simaxindo Primadaya (1994-1995)
  • Membangun cikal bakal Kawasan Industri Air Kelik (1994)

Penghargaan Pribadi

  • Penghargaan 10 Tokoh yang Mengubah Indonesia dari Majalah Tempo (2006)
  • Pin Emas dari Forum Demokrasi (Fordeka) (2006)
  • Tokoh Antikorupsi 2006 dari Koalisi Kebersamaan Tiga Pilar Kemitraan (2007)
  • Bung Hatta Anti-Corruption Award (2013)
  • Gus Dur Award (2016), – Kiprah Basuki di bidang politik dan pemerintahan dinilai selaras dengan pemikiran mantan Presiden RI ke-3, Abdurrahman Wahid yang tegas serta tidak takut menentang arus dalam membuat kebijakan.

Terjun Ke Politik (2004)

Terjun ke Politik, Bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) di Belitung Timur. Ahok sering bercanda bahwa PIB merupakan kepanjangan dari Partai Ikut Basuki.

Anggota DPRD Kab. Belitung Timur (2004-2005)

Menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur dari Partai PIB. Selama di DPRD ia berhasil menunjukan integritasnya dengan menolak ikut dalam praktik KKN, menolak mengambil uang SPPD fiktif, dan menjadi dikenal masyarakat karena ia satu-satunya anggota DPRD yang berani secara langsung dan sering bertemu dengan masyarakat untuk mendengar keluhan mereka

Bupati Belitung Timur (2005-2007)

Terpilih sebagai Bupati Bangka Belitung. Gebrakan pertamanya adalah menggratiskan biaya pendidikan dari SD sampai SMA, dan memotong uang tunjangan pribadinya untuk biaya kesehatan gratis bagi warga. Dalam waktu singkat Ahok juga berhasil menjamin kesehatan seluruh warga Belitung Timur.

Maju Di Pilgub Provisi Bangka Belitung (2007)

Maju di Pemilihan Gubernur Prov. Bangka Belitung. Ahok dinyatakan kalah di Mahkamah Agung. Pada saat kampanye, Ahok didukung penuh oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang merupakan mantan Presiden RI dan ulama besar Indonesia.

Anggota DPR RI (2009-2012)

Menjadi anggota DPR-RI dapil Bangka Belitung dari Partai Golkar. Selama menjabat, Ahok terkenal sebagai anggota yang sangat vokal menyuarakan keluhan hingga aspirasi masyarakat. Dari dulu, Ahok juga merupakan sosok yang mudah ditemui untuk mengadu. Ia menjadi pioneer yang menaikkan standar transparansi anggota dewan saat itu, karena semua anggaran yang ia gunakan, bisa diakses di websitenya.

Wagub DKI Jakarta (2012-2014)

Wakil Gubernur mendampingi Joko Widodo. Jokowi-Ahok dikenal sebagai pemimpin yang saling melengkapi. Berbagai gebrakan dilakukan Ahok bersama Jokowi. Ahok berhasil membuktikan bahwa seorang wakil bisa berperan vital dan tetap kompak.

Gubernur DKI Jakarta (2014-Sekarang)

Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo yang terpilih sebagai Presiden RI. Ahok melakukan banyak gebrakan dan terobosan dalam kepemimpinannya.

BELI UNTUK DUKUNG