Sejak akhir Agustus hingga kini, sungai Ciliwung Lama mulai mengalir air secara perlahan, setelah sebelumnya dibiarkan kering melalui kebijakan penutupan pintu air. Kembalinya aliran Ciliwung Lama tak lepas dari kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sejak 2015, Ahok memerintahkan semua pintu air di sungai-sungai aliran tengah dibuka, termasuk pintu air Ciliwung Lama.

Padahal sejak tahun 1980-an, pintu air Ciliwung Lama selalu ditutup untuk memastikan kawasan ring satu steril dari banjir. Pembukaan pintu air Ciliwung Lama saat itu hanya boleh dilakukan atas izin presiden Soeharto, dalam kondisi banjir siaga 1.

Kebijakan ini, dinilai Ahok tidak relevan lagi diterapkan karena fungsi pompa air dan waduk Pluit sudah cukup memadai. “Saat itu belum ada Waduk Pluit,” ujar Ahok seperti dikutip dari tempo.co (03/03/16). Kini, pintu air Ciliwung Lama dibuka 24 jam, meskipun tidak bisa dibuka terlalu lebar agar tetap bisa mengendalikan aliran air dari hulu.

“Pintu air Ciliwung Lama hanya dibuka maksimal 30 sentimeter dibawah permukaan air sehingga sampah yang mengambang di permukaan tidak ikut hanyut ke Ciliwung Lama” papar Teuku Iskandar, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane. “Kecuali banjir, pintu air bisa dibuka lebih lebar” paparnya, seperti yang dikutip dari Harian Kompas (31/10/16).

Dibukanya pintu air Ciliwung Lama dinilai berdampak positif karena bisa menghilangkan endapan lumpur dan menghilangkan bau akibat aktivitas sanitasi warga di pinggir aliran Ciliwung Lama. Bagya (57), warga RW 013 Kelurahan Cikini, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat mengatakan pada Harian Kompas (31/10/16) bahwa warga senang dengan dibukanya pintu air Ciliwung Lama, dan berharap Ciliwung Lama terus dialiri air. “Air yang mengalir dapat mematikan jentik-jentik nyamuk” ujar Bagya.

Sumber:

Kolom Metropolitan Harian Kompas, 31 Oktober 2016

tempo.co