Kemarin, Selasa (10/01/2017), sidang kelima kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok kembali digelar, dengan agenda mendengarkan kesaksian dari saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU). Terdapat beberapa fakta unik yang terjadi pada sidang yang berlangsung hingga dini hari tersebut. Mulai dari latar belakang saksi, hingga kesaksian yang diberikan dalam persidangan yang dinilai tidak memenuhi kualifikasi. Berikut fakta persidangan unik yang terjadi dalam sidang Ahok kemarin:

1. Kesaksian Hanya Berfokus Pada Video Editan 13 Detik

Video edukasi budidaya ikan kerapu oleh Ahok di Kep. Seribu yang berdurasi 1 jam 48 detik, diedit menjadi hanya 13 detik. Video editan 13 detik inilah yang dijadikan modal kesaksian oleh Pedri Kasman, Sekretaris Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Salah satu kuasa hukum Ahok mengkonfrontir kesaksian Pedri dan menanyakan apakah kalimat dalam video editan 13 detik tersebut dapat berdiri sendiri, tanpa melihat konteks keseluruhan. Pedri berkilah, "Jangan berbelit-belit, di sini saya cuma fokus pada kata jangan mau dibohongi pakai surat Al Maidah yang disampaikan terdakwa," sangkalnya.

Dalam kesaksiannya, Pedri juga menuduh Ahok telah menghapus video asli tersebut dari YouTube. Padahal, video asli yang diunggah oleh Humas Pemprov untuk keperluan transparansi ini masih ada di kanal YouTube Pemprov DKI. “Masih ada. Bisa dicek” tegas Ahok menjawab tuduhan Pedri.

2. Kesaksian Palsu, Bahkan Fitnah

Kesaksian Irena Handono, pemilik Muallah Irena Center dinilai palsu bahkan fitnah. Hal ini berujung pada rencana kuasa hukum Ahok melaporkan balik Irena atas tuduhan kesaksian palsu. Pasalnya, kesaksian Irena di persidangan kemarin sama sekali tidak sesuai dengan fakta yang ada. Irena berusaha menyampaikan bahwa Ahok bukan hanya satu kali melakukan penistaan terhadap agama Islam. Namun semua poin kesaksian Irena dibantah oleh Ahok.

Berikut kesaksian Irena Handono:

a. Irena menuduh Ahok merubuhkan masjid. Padahal masjid dirubuhkan untuk keperluan pembangunan rusun, dan Ahok sudah berjanji akan mengganti dengan membangun masjid yang baru di sekitar lokasi. Alih-alih, Irena tidak menyebutkan perihal banyaknya masjid di Jakarta yang baru dibangun dan/atau direnovasi Ahok.

b. Irena Menuduh Ahok melarang kegiatan agama Islam di Monas, tapi kegiatan agama Kristen boleh. Kenyataannya, semua kegiatan keagamaan tidak diperbolehkan diadakan di Monas, termasuk kegiatan agama Kristen, Katolik, dsb.

c. Irena menuduh Ahok melarang penggunaan pakaian muslim pada hari Jum’at. Padahal, aturan tersebut sama sekali tidak pernah ada.

d. Irena menyebut warga Kepulauan Seribu ketakutan karena telah diberi insentif budidaya kerapu. Tuduhan dan kesaksian ini sama sekali tidak berdasar.

3. Semua Bukti Ada di YouTube

Saat dikonfirmasi oleh wartawan terkait kesaksian yang ia berikan dalam persidangan, Irena mengatakan semua bukti dugaan penistaan agama ada di YouTube.

“Buktinya mana? Ya semua ada di YouTube lah!” tandas Irena dengan percaya diri pada kesempatan konferensi pers. Hal ini mengindikasikan saksi yang tidak terlibat langsung saat kejadian. Saksi hanya mengetahui adanya penistaan agama melalui video editan 13 menit yang diunggah di YouTube.

4. Ada Penambahan Kalimat dan Pengurangan Kata Dalam BAP

Keterangan saksi Burhanudin pada BAP berbeda dengan kalimat asli Ahok. Terdapat penambahan kalimat ’tidak takut api neraka’ yang tidak pernah disebutkan Ahok dalam pidatonya. “Ada istilah ‘api neraka’, saya enggak pernah ucapin. Jangan tambah-tambah,” bantah Ahok. Selain itu, saksi juga tidak menuliskan kata ‘pakai’ dalam kesaksiannya. Sehingga, kesaksian Burhanudin bahkan tidak sesuai dengan kenyataan kalimat Ahok dalam pidato di video editan 13 detik tersebut.

Saksi Burhanudin yang juga merupakan pengacara bagi terdakwa kasus korupsi suap anggota DPR Partai Demokrat, Putu Sudiartana ini mengaku dirinya telah menonton video asli pidato Ahok. Namun saat ditanyai perihal video tersebut, Burhanudin tidak dapat menjawab. Ia hanya mengetahui perkataan Ahok mengenai surat Al-Maidah yang telah diedit dan diunggah ulang oleh Buni Yani.

5. BAP Saksi Gusjoy Identik Dengan BAP Burhanudin

Tim kuasa hukum Ahok mempertanyakan kalimat dalam BAP Burhanudin yang identik dengan BAP saksi sebelumnya, Gusjoy Setiawan, yang merupakan anggota partai pendukung pasangan Agus-Sylvi. “Tidak ada orang yang tidak saling mengenal itu ketikannya (BAP) sama,” ujar Fifi, salah satu kuasa hukum Ahok. “Apa penyidik copy paste?” tandasnya lagi.

Kalimat yang identik tersebut, menurut kuasa hukum Ahok, terdapat pada poin 11 yang merupakan alasan melaporkan. Terdapat kalimat yang identik antara BAP Burhanudin dan Gusjoy. Gelagat saksi yang mencurigakan ini nantinya akan dilaporkan oleh tim kuasa hukum Ahok ke Polda Metro Jaya untuk diselidiki lebih lanjut.