Tidak gampang menjadi seorang Tionghoa di bumi Nusantara. Saya ingat masa kecil saya di Pontianak, di mana Tionghoa di kota kelahiran saya ini memiliki budaya yang lebih kental dibanding daerah lain di Indonesia dan masih berbicara dalam bahasa dialek di rumah. Saya tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang, tapi Pontianak di dekade 80an bukan tempat yang kondusif bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang. Saya diperlakukan berbeda, diteriaki dengan sebutan Cina seakan-akan itu sesuatu yang salah, diancam akan dipukuli dan bahkan uang jajan saya pun pernah dirampas beberapa kali.

Tumbuh di daerah seperti ini mengajarkan secara tidak langsung bahwa saya ini minoritas yang tidak disukai tanpa alasan yang jelas dan oleh karenanya saya harus senantiasa rendah hati dan waspada. Ketika saya lulus kuliah dan pindah ke Jakarta, terus-terang saya merasa terkejut karena teman-teman kerja saya yang bukan orang Tionghoa ternyata ramah, bersikap menerima dan sangat bersahabat.

Ketika Presiden Gus Dur menjadikan tahun baru Cina sebagai hari libur nasional, saya melihat betapa semua penduduk Pontianak dari berbagai kalangan turut merayakannya mulai dari permainan kembang api semalam suntuk sampai tarian naga. Ada rasa sejuk di hati melihat semua suku, ras dan agama menanggalkan atributnya untuk bersuka-cita menikmati perayaan budaya ini.

11 tahun yang lalu, saya pindah ke Singapura. Bekerja di Singapura berarti kita dituntut untuk bekerja sama dengan siapa saja, tidak peduli apa warna kulitnya dan yang dipentingkan adalah apa yang bisa dilakukan oleh masing-masing anggota tim demi tercapainya tujuan akhir dari sebuah proyek. Pengalaman di sini, ditambah lagi dengan kesempatan untuk berkelana ke negara-negara, membuka wawasan saya tentang keharmonisan bersuku, berbangsa dan bernegara.

Kemudian, ketika saya melihat kembali, saya tidak me dendam, tetapi bersyukur telah dilahirkan sebagai orang Indonesia yang berasaskan Bhinneka Tunggal Ika. Saya dengan bangga bercerita kepada teman-teman Singapura, bahwa Indonesia itu terdiri dari banyak suku, bukan saja suku Melayu seperti yang selalu mereka pikirkan. Saya tersenyum ketika membaca tulisan Lee Kuan Yew yang menyebutkan bahwa salah satu peninggalan Bung Karno yang paling penting adalah Bahasa Indonesia, sebab ini memungkinkan kita semua, dari Sabang sampai Merauke, untuk berkomunikasi satu sama lain. Saya senang Indonesia berbeda dengan Malaysia karena dari segi hukum, kita tidak lagi menganut konsep bumiputera (atau pribumi/non-pribumi dalam konteks Indonesia). Ini berarti kita semua adalah sama dan sejajar.

Lalu tiba-tiba kita dihadapkan dengan kenyataan yang terjadi di Pilkada DKI saat ini. Betapa menyedihkan dan konyol. Saya tidak bisa berbicara mewakili semua pihak, sebagai seorang Tionghoa yang lahir di Indonesia, saya tidak berpikir bahwa saya ini bangsa Cina. Tidak sekali pun. Justru sebaliknya, saya bangga menjadi orang Indonesia, sebab kalau tidak, kenapa saya tidak pindah kewarganegaraan menjadi orang Singapura dalam 11 tahun terakhir ini?

Jika ada iri hati karena orang Tionghoa dianggap menguasai perekonomian Indonesia, apakah anda pernah melihat orang Tionghoa yang hanya memiliki rumah beralaskan tanah karena begitu miskinnya? Berpuluh-puluh tahun suku Tionghoa dibatasi dalam berbagai aspek, jadi apa lagi yang harus dilakukan kalau bukan berdagang?

Saya tidak mengatakan bahwa suku Tionghoa sepenuhnya benar. Kondisi hari ini adalah sebuah kesalahan yang dibiarkan berlarut-larut oleh dua belah pihak, namun kita punya pilihan untuk mengoreksinya. Kenyataannya adalah kita semua peduli dan ingin melihat Indonesia menjadi lebih baik.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Indonesia adalah bangsa yang besar, tapi sebagian belum teredukasi. Masalah besar bagi orang yang belum teredukasi adalah gampang terhasut. Di sini tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan itu penting dan memungkinkan orang melihat lebih dari sekedar SARA.

Selanjutnya, jika kita mau belajar dari negara-negara maju, agama adalah urusan pribadi seseorang dengan Tuhan, tidak bisa dicampuradukkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi di Indonesia yang begitu majemuk penduduknya. Ini sudah dari jauh-jauh hari dipahami dan disepakati oleh pendiri bangsa, kenapa kita mau mengingkarinya hari ini?

Yang terakhir, pemimpin itu hendaknya bersifat mengayomi dan melayani. Belum pernah di dalam sejarah bangsa ini kita memiliki seseorang seperti presiden Jokowi yang jujur, mau bekerja begitu keras dan terlihat hasilnya. Tidakkah sewajarnya kita dukung dia? Demikian juga jajaran pemerintahan yang ada di bawahnya. Kalau pola pikirnya masih malas dan korupsi, sepantasnya mereka malu.

Puluhan tahun kita tertinggal dari bangsa-bangsa lain, jadi sungguh tidak terbayangkan kalau orang macam apa yang bisa tidur nyenyak ketika hati nurani semestinya merasa tidak tenang. Akan tetapi itu urusan mereka. Yang menjadi urusan kita adalah melakukan apa yang kita bisa untuk mendukung presiden Jokowi, salah satunya adalah dengan memilih pejabat yang searah dengan pemerintah pusat.


Anthony Robinson