“Bukanlah laki-laki yang hendak kami lawan. Melainkan pendapat kolot dan adat usang.”

Demikian kata Kartini dalam salah satu suratnya kepada Ny. Cvink Soer pada tahun 1900. Kutipan ini menandakan keresahan Kartini pada kondisi perempuan Jawa pada masanya. Alih-alih pasrah pada takdir perjodohan, Kartini malah membekali diri dengan banyak menambah wawasannya. Kartini bahkan mendirikan Sekolah Istri, saat pendidikan merupakan barang mewah bagi perempuan. Kartini mendobrak stigma, melampaui ketentuan masyarakat tentang takdirnya.

Hari ini perempuan masih harus berhadapan dengan stigma tertentu. Namun tidak sedikit perempuan yang berhasil membuktikan bahwa stigma tersebut bisa dipatahkan. Jakarta merupakan tempat yang memungkinkan perempuan menjadi apa saja. Perempuan bisa mengerjakan pekerjaan yang umumnya diidentikkan dengan laki-laki. Berikut empat Kartini Jakarta yang mendobrak stigma.

1.      Kepala Bappeda DKI, Tuty Kusumawati


Sebagai kepala Bappeda, Tuty menjadi andalan Ahok dalam menjaga uang rakyat. Serangan apapun terhadap Ahok juga dihadapi Tuty, yang sangat ketat menjaga APBD agar tidak disusupi anggaran siluman. Ia mengingat bagaimana dirinya dan Ahok harus menyisir anggaran dari pagi hingga malam untuk memastikan semua uang teranggarkan secara wajar. “Kami bisa berani melawan karena didukung Gubernur yang berani juga,” pungkasnya.

2.      Lurah Tanjung Barat, Debby Novita Andriani


Pada usia 27 tahun, Debby dilantik sebagai Lurah Tanjung Barat oleh Ahok. Perempuan muda ini  menjadi Lurah setelah lolos seleksi lelang jabatan yang diadakan Pemprov DKI. Debby mengaku dalam menjalani amanahnya sebagai Lurah, ia mengamalkan nasihat ayahnya. “Jika sudah jujur dan amanah, rezeki nggak akan kemana” kata Debby. Perempuan alumni STPDN ini juga mengaku mengidolakan sosok Ahok.

3.      Supir TransJakarta, Henny PrichatinIngsih


Menjalani profesi sebagai supir Trans Jakarta tidak membuat Henny malu. Sebelumnya, Henny sudah menjalani berbagai macam profesi, mulai dari pelatih tari, Guru TK, hingga membuat usaha restoran di Korea. Ia memutuskan pulang ke tanah air atas desakan keluarga. Sesampainya di Jakarta, perempuan asal Cilacap tersebut merasa tertantang untuk melamar pekerjaan sebagai supir bus. Cibiran tetangga yang menganggap pekerjaan itu tidak cocok bagi perempuan ditepisnya dengan kesungguhan menjalani profesi yang baginya menantang. “Orangtua saya selalu bangga saya jadi supir bus. Suami saya juga mendukung” katanya.

4.      PPSU Kelurahan Bangka, Fitri


Perempuan 40 tahun ini ikut mengerjakan semua pekerjaan PPSU yang identik dengan pekerjaan laki-laki. Mulai dari membersihkan selokan, hingga memangkas pohon saat musim hujan, dan diperbantukan di dapur umum saat terjadi banjir. Meski tak dipungkiri pekerjaan fisik yang dilakoninya kadang membuat lelah, Fitri mengaku betah bekerja sebagai PPSU. “Sakit dan cape biasa ya. Alhamdulillah sudah asyik kerja disini.” Fitri merasa bersykur dengan pekerjaannya sebagai PPSU, dengan gaji UMP (3,1 juta per bulan) ditambah jaminan kesehatan dan pendidikan anak secara gratis.